Demam sering terjadi ketika kita terkena penyakit infeksi. Ketika kita terinfeksi oleh kuman penyebab infeksi, kuman tersebut mengaktifkan sistem imun tubuh kita sehingga dihasilkanlah sitokin pro-inflamasi dalam tubuh kita, suatu komponen sistem imun yang bertindak seperti "pengirim pesan" dalam tubuh kita. Sitokin tersebut mengaktifkan termostat di otak kita untuk menaikan suhu tubuh kita dengan cara dihasilkannya prostaglandin yang berefek mengecilkan pembuluh-pembuluh darah di bagian perifer tubuh kita sehingga darah banyak mengalir ke bagian tengah tubuh. Karena darah bersifat panas, bagian tengah tubuh kita pun serta bagian kepala menjadi panas alias demam, sedangkan pada tubuh bagian perifer (seperti ujung tangan dan ujung kaki), yang pembuluh darahnya mengecil, jumlah darahnya lebih sedikit dibandingkan pada bagian tengah tubuh sehingga rasanya menjadi lebih dingin. Hal tersebutlah yang sering kita rasakan ketika demam dan banyak orang sering menyebutnya "panas dingin" alias "meriang".
Yang menjadi pertanyaan, mengapa tubuh kita melakukan semua hal tersebut?
Di dalam darah terjadi proses metabolisme yang menghasilkan energi dan panas. Energi yang dihasilkan digunakan tubuh untuk melawan kuman penyebab infeksi. Dan ternyata panas yang dihasilkan, yang menyebabkan tubuh kita demam, dibutuhkan juga untuk membunuh kuman penyebab infeksi karena kebanyakan kuman tidak dapat bertahan hidup pada suhu tinggi. Wah, subhanallah ya :')
Namun, suhu yang terlalu tinggi pun dapat merusak organ-organ tubuh kita. Oleh karena itu, dibutuhkan obat penurun panas, seperti paracetamol. Namun, obat penurun panas tersebut tidak dapat membunuh kuman penyebab infeksi sehingga penyakit tersebut belum tentu sembuh oleh obat penurun panas.
Tampilkan postingan dengan label Infeksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Infeksi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 23 Juli 2010
Kamis, 22 Juli 2010
Hati-hati Toxoplasmosis!

Wah, lucu sekali ya kucingnya! Bulunya tebal, putih bersih, hm membuat gemas melihatnya. Namun, apa jadinya jika kucing tersebut mengandung organisme penyebab toxoplasmosis?
Toxoplasmosis disebabkan oleh parasit protozoa Toxoplasma gondii yang memiliki 2 bentuk dalam siklus hidupnya, yaitu:
1. Bradizoit yang berada dalam kista Toxoplasma gondii
2. Takizoit yang merupakan bentuk yang lebih invasif ketika menyerang manusia
Siklusnya ini bermula ketika kucing memakan mangsanya yang mengandung kista bradizoit pada dagingnya. Kemudian di dalam tubuh kucing, terjadi perkembangbiakan Toxoplasma gondii secara generatif. Kemudian parasit ini dikeluarkan dari tubuh kucing melalui kotoran kucing dalam bentuk ookista yang tidak berspora. Kemudian pada tanah, selama 1-5 hari, ookista yang tidak berspora tersebut berubah menjadi ookista berspora dan kini parasit tersebut sudah dapat menginfeksi manusia.
Cara penularannya dapat melalui:
1. Makanan yang terkontaminasi tanah yang mengandung ookista yang telah berspora
2. Daging yang belum matang yang mengandung kista bradizoit
3. Transfusi darah atau implantasi organ yang mengandung parasit tersebut
4. Plasenta ibu hamil yang terinfeksi yang dapat menularkan parasit ke janinnya
Parasit ini dapat menyerang seluruh sel pada bagian tubuh kecuali sel darah merah. Mereka berkembang biak secara vegetatif dalam sel tersebut. Yang paling berbahaya jika parasit ini menyerang sel-sel otak. Wah mengerikan, ya?
Berikut ini beberapa cara untuk mencegah terjadinya toxoplasmosis, terutama untuk ibu hamil karena dapat menyebabkan kecacatan pada janinnya.
1. Untuk pemelihara kucing, sebaiknya jaga kucingnya agar tetap berada di dalam rumah dan memberinya makanan yang telah matang
2. Hindari mengonsumsi daging setengah matang
3. Setelah memotong daging, papan pemotong dan pisaunya sebaiknya dicuci bersih
4. Menggunakan sarung tangan ketika berkebun
5. Mencuci sayuran dan buah secara bersih sebelum dimakan
Langganan:
Postingan (Atom)